KEBERAGAMAN ADALAH SEBUAH KEINDAHAN DALAM BHINNEKA TUNGGAL IKA
Oleh
Sofyan Nur Mahardhika
Negara Indonesia sangat majemuk dan mempunyai petatah-petitih Melayu, bahasa kromo inggil Jawa, petuah yang diperoleh dari berbagai suku di Indonesia. Hal tersebut merupakan contoh keragaman ungkapan suku-suku bangsa yang menjadi bagian dari kearifan lokal, yang menjadi kendali dalam menjalankan kehidupan. Apa yang diutarakan dalam tulisan ini masih sangat minim, jika dibandingkan dengan seluruh suku-suku bangsa kita yang ada di nusantara (429 suku bangsa besar). Dari 429 suku bangsa tersebut akan menghasilkan 429 budaya, Bahasa dan kebiasaan yang berbeda pula dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Oleh karena itu keberagaman ini menjadi sebuah anugerah tersendiri bagi bangsa Indonesia sebagai Negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku, etnis yang berbeda-beda.
Namun, sekarang ini banyak sekali permasalahan yang muncul di Masyarakat hanya karena adanya perbedaan yang membuat nilai-nilai keberagaman ini semakin luntur. Justru kita sebagai bangsa majemuk harus bahu membahu saling membantu satu sama lain meskipun dari latar belakang yang berbeda, karena itulah yang dimaksud dengan Bhinneka Tunggal Ika. Untuk mengajarakan nilai keberagaman ini Pendidikan dapat menjadi salah satu cara yang menjadi solusi untuk masalah ini. Salah satu Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan P5 (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang didalamnya telah menyediakan tema Bhinneka Tunggal Ika sebagai salah satu tema yang dapat diajarkan atau diterapkan pada siswa. Dalam pelaksanaan proyek ini juga guru dapat melihat berbagai contoh penerapannya dari guru-guru lain dan berbagai panduan P5 lainnya melalui Platform ProPePa (Profil Pelajar Pancasila). Dengan ini guru dapat lebih mudah mencari referensi tentang penerepan P5 ini di kelas dan juga bisa berbagi praktik mengajar.
Bhinneka Tunggal Ika merupakan satu satunya semboyan bangsa Indonesia. Semboyan ini tertulis di dalam lambang negara Indonesia yaitu Burung Garuda Pancasila. Pada kaki Burung Garuda itulah terpampang dengan jelas tulisan Bhinneka Tunggal Ika. Konsep “Bhinneka” mengakui adanya keanekaan atau keragaman, sedangkan konsep “Tunggal Ika” menginginkan adanya kesatuan. Keanekaan diciri- kan oleh adanya perbedaan, sedangkan kesatuan dicirikan oleh adanya kesamaan (Pursika, 2009)
Keanekaragaman masyarakat Indonesia dapat dite- mukan dalam berbagai bidang kehidupan. Keanekaragaman di bidang politik diwarnai oleh adanya kepentingan yang berbeda-beda antara individu atau kelompok yang satu dengan individu atau kelompok yang lainnya. Di bidang ekonomi, keanekaragaman dapat dilihat dari adanya perbedaan kebutuhan hidup, yang akhirnya berimplikasi terhadap munculnya keanekaragaman pada pola produksi. Di bidang sosial, keberagaman itu tercermin dari adanya perbedaan peran dan status sosial. Selain itu, ke- anekaragaman juga dapat dilihat dari segi geografis, budaya, agama, etnis, dan sebagainya.
Keberagaman ini tentunya harus dipahami oleh setiap Masyarakat Indonesia dan ini termasuk para pelajar di seluruh Indonesia. Dengan memahami keberagaman ini diharapkan siswa dapat menghormati serta menghargai sebuah penghargaan dan menjadikan perbedaan sebagai sebuah anugerah yang harus disyukuri. Ada banyak cara untuk memperkenalkan konsep keberagaman dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, salah satunya dengan mengintegrasikannya kedalam sebuah kegiatan pembelajaran.
Dalam kurikulum yang berlaku saat ini yaitu Kurikulum Merdeka terdapat pembelajaran berbasis proyek yang dimana pembelajaran ini terpisah dengan pembelajaran Intrakulikuler, pembelajaran tersebut adalah Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dilaksanakan untuk kelas I, II, IV dan V. Dalam P5 ini mengusung beberapa tema yang dapat digunakan guru untuk menerapkan P5, salah satunya adalah Bhinneka Tunggal Ika. Dalam panduan P5 disebutkan bahwa tema Bhinneka Tunggal Ika yang terdapat pada P5 ini bertujuan agar Peserta didik mengenal dan mempromosikan budaya perdamaian dan anti kekerasan, belajar membangun dialog penuh hormat tentang keberagaman serta nilai-nilai ajaran yang dianutnya. Peserta didik juga mempelajari perspektif berbagai agama dan kepercayaan, secara kritis dan reflektif menelaah berbagai stereotip negatif dan dampaknya terhadap terjadinya konflik dan kekerasan (Pusat Asesmen dan Pembelajaran, 2021). Artinya dalam tema ini peserta didik akan diajarkan bagaimana ia bisa mengenal budayanya sendiri dan juga menghormati budaya lain sebagai sebuah contoh keberagaman yang ada di Indonesia.
Keberagaman perlu dipahami oleh setiap peserta didik sebagai sebuah keindahan yang patut disyukuri. Untuk itu pengintegrasian nilai keberagaman dalam pembelajaran sangat diperlukan agar siswa semakin memahami arti keberagaman. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai sebuah kegiatan pembelajaran berbasis proyek dapat digunakan oleh guru untuk memahamkan kepada siswa arti keberagaman dengan memilih tema Bhinneka Tunggal Ika sebagai tema materi yang akan disampaikan. Karena P5 ini merupakan pembelajaran berbasis proyek tentunya guru perlu model, metode, pendekatan dan strategi pembelajaran yang kreatif dalam menerapkan pembelajarannya..
Sebagai contoh untuk fase A guru dapat memperkenalkan konsep keberagaman ini dengan meminta siswa untuk mengenal setiap anggota keluarga yang ada di rumah mulai dari tempat lahir anggota keluarga, pekerjaan, hobi dan lainnya. Dengan mengenal setiap anggota keluarganya maka akan timbul rasa kebanggaan terhadap keluarganya meskipun anggota keluarganya berasal dari latar yang berbeda-beda. Hal ini dinilai cukup untuk memperkenalkan arti keberagaman pada siswa dan menghargai perbedaan sebagai sebuah keindahan.
Atau contoh lainnya untuk fase B, guru dapat mengambil cakupan materi yang lebih besar misalnya dengan mencari tahu berbagai macam budaya yang ada di Indonesia. Dengan menggali informasi tentang Budaya yang ada di Indonesia maka akan timbul kesadaran bahwa bangsa Indonesia ini terdiri dari berbagai macam suku dan budaya dan kita sebagai warga negara harus menjaga keberagaman tersebut.
Sebelum melaksanakan P5 guru harus memilih terlebih dahulu dimensi, elemen dan sub elemen yang terdapat pada dimensi P5. Sebaiknya jumlah dimensi profil pelajar Pancasila yang dikembangkan dalam suatu projek profil tidak terlalu banyak agar tujuan pencapaian projek profil jelas dan terarah. Penentuan dimensi sasaran ini akan dilanjutkan dengan penentuan elemen dan sub-elemen yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik (Shinta, 2022 : 80) Sebagai referensi guru dapat mengkases platform ProPePa untuk mencari tahu dimensi apa saja yang ada di P5 ini dan juga mencari bahan referensi lain contohnya modul ajar, video pembelajaran dan referensi lainnya untuk membekali guru dalam menerapkan P5 ini di kelas.
Artinya melalui penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang didalamnya memuat nilai keberagaman dapat menjadi salah satu upaya atau cara yang dapat kita gunakan untuk memahami indahnya keberagaman yang ada di Indonesia dengan memilih tema Bhinneka Tunggal Ika sebagai tema pembelajaran dalam penerapan P5 di kelas. Melakukan eksplorasi, memperoleh penghasilan dengan tetap melestarikan budaya, tradisi dan sumber daya, dapat dilakukan untuk semakin mengenalkan dan memahamkan kepada peserta didik mengenai indahnya keberagaman.
DAFTAR PUSTAKA
Handayani, Shinta Dwi, Ari Irawan, Chatarina Febriyanti, Gita Kencanawaty, Program Studi, and Teknik Informatika, ‘Mewujudan Pelajar Pancasila Dengan Mengintegrasikan Kearifan Budaya Lokal Dalam Kurikulum Merdeka’, Ilma (Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Keagamaan), 1.1 (2022), 76– 81
Pursika, I. N. (2009). Kajian Analitik Terhadap Semboyan” Bhinneka Tunggal Ika”. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, 42(1 Apr).
Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Kemendikbud. (2021).