TRIK MENGATASI

TRIK MENGATASI "PERUNDUNGAN" MELALUI PROYEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA DALAM TEMA BANGUNLAH JIWA DAN RAGANYA

Oleh

Trisna Nugraha

Manusia merupakan makhluk sosial. Artinya dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Dalam menjalani hidup sebagai makhluk sosial, manusia perlu melakukan interaksi dengan manusia lainnya. Bentuk interaksi yang dapat dilakukan dapat berupa interaksi dengan cara berkomunikasi ataupun dengan cara fisik. Namun selayaknya sebagai makhluk sosial interaksi yang dilakukan tidak sembarangan karena dalam berinteraksi juga terdapat aturan-aturan yang tidak tersirat yang dinamakan etika.

Dizaman yang maju ini etika menjadi salah satu nilai karakter yang mencoba untuk ditanamkan pada setiap individu dengan tujuan agar terciptanya individu yang memiliki kepribadian baik. Kita tentu sudah tidak asing dengan etika ini, bahkan sejak kecil kita sudah diajarkan berbagai macam etika dalam hidup kita, mulai dari etika berbicara, berperilaku dan lain-lain. Diajarkan nya etika bertujuan untuk agar kita dapat menjadi pribadi yang baik yang tidak melakukan hal-hal yang merugikan dan menyimpang. Sehingga etika merupakan salah satu hal yang penting untuk dimiliki oleh setiap individu. 

Etika perlu ditanamkan sejak dini, oleh karena itu di lingkungan PAUD dan Sekolah Dasar selain dari pengetahuan umum kita diajarkan juga etika di berbagai mata Pelajaran contohnya adalah PPKn, dan juga IPS. Namun perkembangan zaman yang massif sekarang ini membuat nilai-nilai etika mulai memudar sehingga menimbulkan berbagai permasalahan sosial. Salah satu akibatnya adalah muncul perilaku bullying atau perundungan. Pernahkah kamu mengalami perundungan misalnya dikucilkan atau dihina teman? Setiap remaja menanggapi perundungan dengan cara yang berbeda. Ada yang tak terusik namun ada juga terganggu. Ada yang menderita hingga mengalami depresi berkepanjangan. Bahkan ada yang kemudian bunuh diri. Ternyata 50% siswa pernah mengalami perundungan di sekolah (UNICEF, 2016).

Selain itu, data dari National Center for Education Statistics di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 13% siswa usia 12-18 tahun mengalami perundungan verbal dengan diejek dan dipanggil dengan julukan buruk, 5% mengalami perundungan fisik dengan didorong maupun dipukul, dan 5% mengalami perundungan psikologis dengan dikucilkan dari berbagai kegiatan (Musu-Gillette, Zhang, Wang, Zhang, Kemp, Diliberti, & Oudekerk, 2018).

Perundungan semakin merajalela khususnya di lingkungan Pendidikan salah satunya adalah sekolah dasar. Siswa sudah mulai mengetahui perundungan bahkan menganggapkan sebagai sebuah hal yang hebat ataupun keren karena dengan perundungan dia merasa dia dapat berkuasa atas orang lain yang berada dibawahnya. Hasil-hasil penelitian internasional mengungkapkan bahwa perundungan memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan anak (Borualogo & Casas, 2019b).  selain itu, studi yang dilakukan oleh Copeland et al. (2013) menunjukkan bahwa anak yang menjadi korban perundungan didiagnosis memiliki resiko yang lebih tinggi mengalami depresi dan bunuh diri dibandingkan yang tidak pernah menjadi korban perundungan. Tentunya hal ini perlu segera diatasi segera.

Salah satu cara untuk mengatasi perundungan dan meminimalisir dari dampak perundungan yang sudah terjadi adalah dengan menyelenggarakan sebuah kegiatan pembelajaran yang bermuatan nilai-nilai karakter. Salah satunya adalah dengan menerapkan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang didalamnya memuat berbagai macam karakter yang dapat dipelajari oleh peserta didik. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa P5 merupakan sebuah contoh kegiatan pembelajaran yang mengharapkan agar pelajar di Indonesia memiliki profil yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila yaitu karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya satuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler, projek penguatan pelajar Pancasila, dan ekstrakurikuler (Pusat Asesmen dan Pembelajaran, 2021).

Dalam profil pelajar Pancasila Profil pelajar Pancasila memiliki beragam kompetensi yang dirumuskan menjadi enam dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan menguatkan sehingga Upaya  mewujudkan profil pelajar Pancasila yang utuh membutuhkan berkembangnya seluruh dimensi tersebut secara bersamaan. Keenam dimensi tersebut adalah: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia.  2). Berkebinekaan global. 3) Bergotong-royong. 4) Mandiri. 5) Bernalar kritis.dan 6) Kreatif. Selain dari 6 dimensi tersebut guru juga dapat memilih salah satu tema dalam P5 ini yang dapat dipilih sebagai tema yang tepat untuk menyampaikan perihal perundungan serta dampaknya, tema tersebut adalah tema bangunlah jiwa dan raganya.

Pada tema ini Peserta didik membangun kesadaran dan keterampilan memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya. Peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing), perundungan (bullying), serta berupaya mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. Artinya tema ini dapat dipilih oleh guru sebagai salah satu tema yang digunakan untuk menyampaikan materi tentang perundungan dengan harapan siswa dapat mengerti perundungan dan dampak yang dihasilkannya.

Dalam penerapannya guru bisa menerapakan P5 ini secara kontekstual yaitu upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong pendidik dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran (Shinta, 2022 : 79). Dengan menerapkan pendekatan kontelstual kita dapat memberikan gambaran secara nyata tentang perundungan dan contoh dampak dari perundungannya kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat lebih memahami tentang perundungan ini.

Dengan demikian perundungan dapat kita kurangi dampaknya dengan memperkenalkan kepada peserta didik tentang perundungan serta dampaknya melalui kegiatan pembelajaran di sekolah salah satunya adalah melalui pelaksanaan P5 ini. Sebagai referensi pelaksanaan pembelajaran dan penerapan P5 ini guru dapat melihat berbagai contoh dalam platform propepa yang telah didesain untuk mempermudah guru dalam mencari referensi dan juga berdiskusi tentang pelaksanaan P5 ini di kelas


DAFTAR PUSTAKA


Borualogo, I.S., & Casas, F. (2019b). Subjective well-being of bullied children in Indonesia. Applied Research in Quality of Life. Doi: 10.1007/s11482-019-09778-1.

Copeland, W. E., Wolke, D., Angold, A., & Costello, E. J. (2013). Adult psychiatric outcomes of bullying and being bullies by peers in childhood and adolescence. JAMA Psychiatry, 70(4), 419–426. doi:10.1001/jamapsychiatry.2013.504

Musu-Gillette, L., Zhang, A., Wang, K., Zhang, J., Kemp, J., Diliberti, M., & Oudekerk, B.A. (2018). Indicators of School Crime and Safety: 2017 (NCES 2018-036/NCJ 251413). National Center for Education Statistics, U.S. Department of Education, and Bureau of Justice Statistics, Office of Justice Programs, U.S. Department of Justice. Washington, DC

Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Kemendikbud. (2021).

United Nations (2016). Ending the torment: tackling bullying from the schoolyard to cyberspace. United Nations Special Representative of the Secretary General on Violence Against Children. Retrieved

Handayani, Shinta Dwi, Ari Irawan, Chatarina Febriyanti, Gita Kencanawaty, Program Studi, and Teknik Informatika, ‘Mewujudan Pelajar Pancasila Dengan Mengintegrasikan Kearifan Budaya Lokal Dalam Kurikulum Merdeka’, Ilma (Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Keagamaan), 1.1 (2022), 76– 81


Jl. Terusan Jendral Sudirman, Cimahi 40526, Provinsi Jawa Barat, 40521

Lokasi