YUK, JAGA NILAI KEARIFAN LOKAL MELALUI PENERAPAN PROJEK PROFIL PELAJAR PANCASILA !
Oleh
Sofyan Nur Mahardhika
Profil pelajar Pancasila (P3) sekarang ini merupakan profil yang diharapkan tergambar pada setiap insan siswa yang ada di Indonesia. Profil ini juga diharapkan dapat dikenal serta dimaknai oleh setiap siswa di Indonesia dengan harapan profil ini dapat menjadi ciri khas dari siswa di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah dan negara dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rencana strategis nya bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendukung Visi dan Misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Agar terwujudnya Profil Pelajar Pancasila ini Pendidikan dan Kebudayaan mengusungung Proyek Profil Pelajar Pancasila (P5) yang didalamnya terdapat tema-tema yang dapat dipilih untuk melaksanakan proyek salah satunya adalah kearifan lokal.
Kearifan lokal sebagai salah satu tema dalam Proyek Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan salah satu perantara yang dapat digunakan untuk menjaga kelestarian kearifan lokal yang ada di Indonesia dengan mendorong pendidik dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realitas kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Sehingga nilai-nilai kearifan lokal ini tetap ada dan dimaknai oleh setiap Masyarakat dan warga negara Indonesia sebagai sebuha nilai khas yang hanya dimiliki oleh Negara Indonesia dan perlu dijaga bersama-sama
Kearifan lokal merupakan ciri khas tentang pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud sebuah aktivitas yang dilakukan oleh sebuah kelompok Masyarakat lokal dalam menjalani kehidupan ataupun aktivitas sehari-hari. Dalam bahas asing kearifan lokal didefinisakn sebagai “local wisdom” atau pengetahuan setempat atau “local knowledge” atau kecerdasan setempat. Singkatnya adalah, kearifan lokal merupakan ciri khas yang dapat membedakan dari daerah situs lainnya, memiliki keunikan dan karakter tersendiri, serta membedakannya dengan situs lainnya (Gogoi, 2015).
Ilmuwan antropologi, seperti Koentjaraningrat Spradley, Taylor, dan Suparlan (dalam Fajarini, 2014 : 124) telah mengkategorisasikan kebudayaan manusia yang menjadi wadah kearifan lokal itu kepada idea, aktivitas sosial, artifak. Artinya kearifan lokal ini tidak hanya berupa aktivitas masyarakat saja tetapi dapat juga berupan sebuah hasil pemikiran yang dipercayai ataupun hasil hasil karya yang diyakini merupakan hasil budaya dari kelompok masyarakat tersebut.
Kearifan lokal hanya akan ada jika kearifan lokal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang berasaskan gotong-royong dan kekeluargaan sebagai salah satu wujud kearifan lokal kita sehingga mampu menjawab arus zaman yang telah berubah. Selain itu Upaya menjaga kearifan lokal adalah melalui Pendidikan yaitu lewat kegiatan pembelajaran di kelas khususnya di Sekolah Dasar. Dalam upayanya tersebut kearifan lokal dapat digunakan sebagai salah satu tema dan juga bahan ajar yang dapat dipilih oleh guru untuk melaksanakan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di kelas,
Pendidikan dengan dimensi kearifan lokal dalam sekolah tentunya memiliki tujuan yang positif, yaitu: siswa mengetahui keunggulan lokal suatu tempat tinggal dan memahami berbagai aspek yang terkait dengan kearifan lokalitas tersebut (Maharani, 2021). Selain itu Pembelajaran yang diintegrasikan dengan nilai-nilai kearifan lokal memiliki tujuan materi pembelajaran bisa dengan mudah dipahami, sekaligus bisa menguatkan karkter bangsa pada peserta didik dan mewujudkan Profil pelajar Pancasila (Santika, 2022). Dengan menerapkan dimensi atau teman kearifan lokal ini siswa juga memiliki kemampuan mengelola sumber energi, melakukan eksplorasi, memperoleh penghasilan dengan tetap melestarikan budaya, tradisi dan sumber daya, kekuatan untuk menjadi daerah yang dominan, serta mampu bersaing di dalam dan luar negeri dari yang diharapkan siswa. Tentunya hal ini sejalan dengan tujuan dari tema kearifan lokal ini yang terdapat pada panduan P5 dimana dalam tema ini Peserta didik membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri melalui eksplorasi budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar atau daerah tersebut, serta perkembangannya. Peserta didik mempelajari bagaimana dan mengapa masyarakat lokal/ daerah berkembang seperti yang ada, konsep dan nilai-nilai di balik kesenian dan tradisi lokal, serta merefleksikan nilai-nilai apa yang dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan mereka.
Artinya melalui penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)yang didalamnya memuat nilai kearifan lokal dapat menjadi salah satu upaya atau cara yang dapat kita gunakan untuk menumbuh kembangkan rasa rasa ingin tahu dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari berbagai potensi daerah secara mandiri namun tentunya dengan bimbingan dari guru sehingga timbul rasa memiliki terhadap kearifan lokal ini dan juga rasa untuk menjaganya agar tetap lestari dan tidak hilang oleh perkembangan zaman. Agar upaya ini dapat berjalan dengan baik guru diberi keleluasaan agar dapat menerapkannya dengan menerapkan berbagai macam model, metode, pendekatan atau strategi yang inovatif dan kreatif yang disesuaikan dengan karakteristik siswa di kelas. Karena Proyek Penguatan Profil Siswa Pancasila diterjemahkan dari pengurangan beban belajar di kelas (intrakurikuler) agar siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar dalam setting yang berbeda (kurang formal, kurang terstruktur,lebih interaktif, terlibat dalam masyarakat) (Zuhron, 2021).
Melalui penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang didalamnya memuat nilai kearifan lokal dapat menjadi salah satu upaya atau cara yang dapat kita gunakan untuk menjaga nilai kearifan lokal tetap lestari dan terjaga sebagai sebuah ciri khas dari negara Indonesia karena melalui penerapan P5 ini siswa akan memiliki kemampuan mengelola sumber energi, melakukan eksplorasi, memperoleh penghasilan dengan tetap melestarikan budaya, tradisi dan sumber daya, kekuatan untuk menjadi daerah yang dominan, serta mampu bersaing di dalam dan luar negeri dari yang diharapkan siswa. Dalam penerapannya guru diberi keleluasaan agar dapat menerapkannya dengan menerapkan berbagai macam model, metode, pendekatan atau strategi yang inovatif dan kreatif yang disesuaikan dengan karakteristik siswa di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Fajarini, U. (2014). Peranan kearifan lokal dalam pendidikan karakter. Sosio didaktika, 1(2), 123-130.Balgopal, M., & Wallace, A. (2009). Decisions and dilemmas: Using writing to learn activities to increase ecological literacy. Journal of Environmental Education, 40(3), 13–26. https://doi.org/10.3200/JOEE.40.3.13-26
Gogoi, D. S. (2015). Research Article Importance’s Of Teaching Learning Materials For Young Children. International Journal of Current Research, 7, 5
Maharani, L A, Y F Furnamasari, and D A Dewi, ‘Menumbuhkuatkan Pengetahuan Mengenai Nilai-Nilai Pancasila Di Sekolah Dasar’, Jurnal Pendidikan Tambusai, 5.3 (2021), 9387–9389
Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, Kemendikbud. (2021).
Santika, I Wayan Eka, ‘Penguatan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Bali Dalam Membentuk Profil Pelajar Pancasila’, Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 4.4 (2022), 6182–95
Zuhron, Daniel, ‘Tunas Pancasila’, in Direktorat Sekolah Dasar (Direktorat Sekolah Dasar, 2021), I