YUK, SIAPKAN SISWA YANG SEHAT MELALUI P5 TEMA BANGUNLAH JIWA DAN RAGA
Oleh
Medita Ayu Wulandari
Hai para guru hebat…. Salam ProPepa
Pastinya sahabat guru yang hebat sudah sangat familiar dengan istilah P5 atau projek penguatan profil pelajar Pancasila yang merupakan bagian dari kurikulum Merdeka. Dalam implementasi P5 ini terdapat beberapa tema yang bisa dipilih oleh tiap satuan pendidikan untuk mereka ambil sebagai projek yang akan mereka jalankan dalam satu tahun ajaran, salah satu temanya adalah “bangunlah jiwa dan raga”. Sebetulnya, waktu pelaksanaan projek ini pada tiap satuan pendidikan adalah fleksibel, diperbolehkan berbeda antar satu sekolah dengan sekolah lainnya, masing-masing bisa disesuaikan dengan tujuan dan kedalaman eksporasi tema disekolah tersebut.
Para guru yang hebat, kira-kira seperti apasih gambaran dari tema “membangun jiwa dan raga” itu? Naaah… Pada tema ini, para siswa akan kita ajak untuk membiasakan diri agar mereka memiliki gambaran mengenai bagaimana cara untuk menumbuhkan kesadaran serta kecakapan untuk dapat memelihara kesehatan jiwa dan raga, yang mereka mulai dari dirinya sendiri kemudian diperluas kepada orang lain yang ada di lingkungan sekitarnya.
Coba temak, menurut para guru hebat kenapa ya tema ini menjadi salah satu yang perlu untuk dibelajarkan pada anak usia sekolah dasar dalam kegiatan projek? Yups… tepat sekali… Alasannya adalah karena topik mengenai kesadaran diri atau wellbeing ini merupakan salah satu hal yang sangat dibutuhkan untuk diajarkan kepada siswa di Indonesia, tujuannya ya itu tadi, supaya para siswa kelak akan dapat melakukan pemeliharaan dan menjaga kesehatan fisik serta mentalnya secara mandiri. Tema ini menjadi salah satu kajian utama dalam kurikulum pendidikan Indonesia karena memang urgensinya cukup tinggi untuk mulai diajarkan pada setiap jenjang pendidikan.
Pada jenjang sekolah dasar sendiri, berbagai data empiris menunjukkan bahwa tingkat kesehatan fisik dan mental siswa di Indonesia masih rendah dan perlu ditingkatkan. Kasus-kasus yang sering kita temukan terkait hal tersebut diantaranya adalah: 1) tingginya kasus perundungan atau bulliying di sekolah dasar di Indonesia (Mayasari et all, 2019); 2) masih rendahnya kesadaran siswa sekolah dasar untuk merawat gigi dan mulut yang akhirnya berdampak pada tingginya angka karies gigi anak sekolah dasar (Yani et al, 2015); 3) tingginya angka stress pada siswa sekolah dasar yang cukup yang diakibatkan oleh kurangnya kelekatan atau komunikasi baik antara orang tua dengan anak yang berdampak pada penurunan hasil belajar akademik anak di sekolah (Mahmudah & Rusmawati, 2019); atau bahkan 4) rendahnya tingkat kesadaran siswa sekolah dasar untuk meningkatkan kebersihan diri melalui gerakan mencuci tangan (Arianru, 2019). Data diatas jelas menunjukkan bahwa bahasan mengenai fisik dan mental memang sudah sangat dibutuhkan oleh para siswa sekolah dasar.
Lalu, bagaimanakah pembelajaran pada tema ini dapat menguatkan profil pelajar Pancasila? Sahabat guru SD yang hebat…! Memiliki pemahaman terkait dengan kesejahteraan fisik dan mental baik untuk diri sendiri dan orang lain merupakan hal yang dapat mendorong para siswa untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan tema global secara berkelanjutan. Pada tema ini, para siswa dapat mendalami berbagai hal yang berkaitan dengan kontribusi apa yang dapat mereka berikan untuk menjaga kelangsungan Kesehatan diri mereka baik secara fisik maupun mental, serta bagaimana cara mempertahankannya sehingga dapat memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Pada tema ini, para siswa dapat diajak untuk melaksanakan kegiatan penelitian dan diskusi mendalam terkait dengan permasalahan kesejahteraan diri yang mereka rasakan. Selain itu, permasalahan global seperti perundungan atau bulliying; penyalah gunaan narkotika dan obat-obatan terlalarang; kekerasan dalam rumah tangga; pornografi; komunikasi yang sehat antar anggota keluarga; serta kesehatan reproduksi juga merupakan topik yang menarik untuk dikenalkan pada para siswa. Namun memang harus diingat, bahwa semua topik ini tentunya harus disesuaikan kedalaman pembahasannya dengan masing-masing tahapan perkembangan anak di sekolah dasar.
Para guru yang hebat …!
Pada siswa sekolah dasar sendiri, kegiatan yang bisa kita laksanakan salah satunya adalah dengan meminta para siswa untuk melakukan “jurnaling” atentang kegiatan mereka sehari-hari yang berkaitan dengan perilaku menjaga kebersihan dan kesehatan jiwa dan raga. Kemudian tiap-tiap siswa akan diminta untuk memilih satu saja kebiasaan baik yang akan mereka biasakan kedapeannya dalam fase waktu yang sudah ditentukan secara konsisten. Kegiatan ini secara kasat mata memang terlihat sederhana dan sangat mudah untuk dijalankan, namun jika kita melihat lebih jauh lagi mulai membiasakan satu hal baik kepada siswa ini akan sangat berdampak dan memberikan manfaat untuk kehidupan mereka baik dalam waktu dekat maupun untuk jangka panjang.
Kegiatan menuliskan hal-hal baik yang mereka lakukan akan melatih para siswa untuk memiliki kesadaran akan situasi dirinya dan melatih keluwesan berpikir mereka. Hal ini merupakan potret dari kegiatan melatih kemandirian dan kreatifitas siswa. Kemudian para siswa juga akan mampu untuk dapat memilah informasi yang mereka anggap penting, melakukan analisis mendalam terkait hal tersebut dan kemudian merefleksikannya dalam kegiatan mereka sehari-hari. Para siswa secara tidak langsung juga akan dilatih untuk dapat melakukan evaluasi apakah kegiatan yang mereka pilih itu termasuk dalam kegiatan baik atau bukan, atau apakah mereka sudah melakukan kegiatan baik itu setiap hari atau belum. Hal ini mencerminkan kegatan yang melatih dimensi bernalar kritis pada siswa.
Dengan kita membahas contoh isu terkait tema “membangun jiwa dan raga” tersebut, semoga para guru yang hebat semakin siap untuk mengembangkan dan melaksanakan projeknya, hingga terlaksana kegiatan yang menyenangkan untuk dilaksanakan bersama dengan para siswa tercinta di sekolah masing-masing.
Salam ProPePa…!
DAFTAR PUSTAKA
Arianru, V. A. (2019). Upaya peningkatan kesadaran kebersihan diri pada siswa sd melalui gerakan mencuci tangan dan menyikat gigi. Prosiding SNP2M (Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) UNIM, [S.l.], n. 2, 220-225.
Mahmudah, H., & Rusnawati, H. (2019). Hubungan antara kelekatan anak – orang tua dengan stress akademik pada siswa SD N Srondol Wetan 02 Semarang dengan system pembelajaran full day school. Jurnal Empati: Fakultas Psikologi universitas Diponegoro, 7(4), 33-42.
Mahmudah, H., & Rusnawati, H. (2019). Hubungan antara kelekatan anak – orang tua dengan stress akademik pada siswa SD N Srondol Wetan 02 Semarang dengan system pembelajaran full day school. Jurnal Empati: Fakultas Psikologi universitas Diponegoro, 7(4), 33-42.
Mayasari, A., Hadi, S., & Kuswandi, D. (2019). Tindakan perundungan di sekolah dasar dan upaya mengatasinya. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengmbangan, 4(3), 399–406.
Yani, R. W. E., Hadnyanawati, H., Kiswaluyo, & Meilawaty, Z. (2015). Gambaran Tingkat Keparahan Karies Gigi Anak Sekolah Dasar di 10 Kecamatan Kabupaten Jember. STOMATOGNATIC - Jurnal Kedokteran Gigi, 12(2), 42-45.